Aku yang terlahir di Palembang 190293 dari pasangan SUDARTO dan RAHWATI merupakan anak pertama, adikku DIMAS, yang lengkapnya Dimas Agung Wiraguna merupakn adikku satu2nya,

Aku yang kecil dulu sudah sekolah di umur 4,5 tahun, tidak lagi mengemban bangku TK, itu karena Ibuku adalah seorang guru di SD tempat aku sekolah SD di dusun daerah tempat aku tinggal. Tepatnya di daerah Banyuasin Desa Ringin Harjo Karang Agung Tengah. 

Awalnya sih cuma ikut Ibu saja, namun pada akhirnya malah sekolah benar dan kepala sekolah di SD tersebut mengizinkan aku untuk tetap melanjutkan sekolah dengan alasan aku sudah mampu untuk mengikuti mata pelajaran yang di ajarkan di SD tersebut.

Prestasiku cukup baik waktu SD termasuk dalam 10 besar, walaupun aku anak yang paling muda di SD  tersebut, ya itu semua karena bimbingan dari orang tua ku.

Sekolah ku berjalan dengan baik tidak ada kendala, tapi kelas 5 aku pindah sekolah ke Palembang. Bukan karena ada masalah, tetapi untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang jauh lebih baik, awalnya sih aku senang bisa sekolah di Palembang, karena selama ini aku merasa senang jika aku pergi ke Palembang, namun semua tak seperti yang dibayangkan, berubah sesuai dengan dunia ini yang selalu berubah dan terus berjalan.

Dunia ini bagaikan sebuah perjalanan, dari mana kita berasal dan mau ke mana kita nanti, maka dari tu kita harus punya tujuan dan berpetualang untuk menggapainya.

Begitu pun aku, memiliki petualangan dalam hidup ini. Aku yang berasal dari keturunan Jawa memiliki petualangan yang cukup mengasyikkan. Dimulai saat aku berumur kira-kira 10 tahuan, aku merantau dari desaku Karang Agung Tengah (tidak banyak orang tahu daerah ini) aku pergi ke Palembang. Aku meninggalkan orang tuaku, hidupku pun jauh dari mereka, tapi pertualangan hidup di Palembang sangatlah menyedihkan. Di Palembang aku tinggal bersama Bude (mbak dari ayahku) hidupku di sini cukup senang, tapi banyak kejadian yang mengecewakan, aku selalu merepotkan Bude dan sering buat ulah yang tak sesuai, seperti berenang di bak mandi, khayalan ingin berenang di kolam renang terlampiaskan di bak mandi, awalnya tidak ketahuan, namun sepintar apapun menyimpan bangkai pasti akan ke cium baunya. Begitu pun ulahku aku ketahuan, aku kena marah, aku menangis, aku malu, dan aku menyesal akan hal itu. Dari kejadian itu, hidupku mulai berubah, q tak lagi seceria dan hidup dengan tenang, banyak hal-hal bodoh yang kulakukan, puncaknya saat pertengahan kelas dua SMP, orang tuaku datang dan menjengukku seperti biasa, namun di saat mereka ingin pulang aku menangis dan melarang mereka untuk pulang, namun mereka tidak mau, aku semakin histeris menangis, aku di marah, dan dicubit, namun aku tetap menangis bahkan sampai menendang tembok. Ibuku pun kesal akhirnya aku di ajak ke dusun lagi jika memang Ibu tidak boleh pulang.

Akhirnya aku pulang, kembali ke dusun, dan aku pindah sekolah dari SMP di Palembang pindah ke dusun, jelas semua orang kecewa pada saya, namun itulah pilihannya. Aku pun merasa senang karena bisa berkumpul dengan keluargaku walaupun harus rela meninggalkan daerah perkotaan yang serba ada, tidak seperti di dusun.

Sungguh  ku sadar aku telah melakukan kesalahan yang besar, aku meninggalkan semua hal yang serba modern dan kembali ke tradisional. Namun semua itu tetap aku nikmati dengan semangat dan tekad yang kuat.

Aku pun memulai sekolah kelas dua di sekolah ku yang baru, walaupun semua siswa rata-rata teman SD ku namun aku hanya diam saja dalam beberapa hari, karena begitulah diriku jika berada di lingkungan yang baru walau semua orangnya tak asing bagiku.

Aku pindah saat kelas dua semester dua.

Hari pertama aku lalui dengan biasa saja, mengikuti semua kegiatan dengan baik, datang ke sekolah tepat waktu dan pulang sekolah langsung ke rumah, begitu setiap harinya.

Di SMP aku juga masih termasuk siswa yang paling muda, namun aku berhasil masuk lima besar di kelas, prestasi cukup baik untuk anak baru di sekolah tersebut.

Tidak banyak cerita di kelas dua ini, namun berbeda lagi pada saat kelas tiga.

 

Iklan